Guys gw punya cerita yang gw sendiri bingung mau ngasih judul apaan,, ni hanya lukisan karya gw yang sedikit puitis modern, yagh gw sendiri g’ tau lah cara ngebahasainx so baca az yagh….
Selamat membaca
Aku tak tahu, apakah aku ini adalah orang yang paling beruntung didunia atau orang yang paling menderita didunia, aku terlahir dari keluarga yang terpecah belah akibat banyaknya pemikiran-pemikiran yang menjadi ruang terpisah antara ayah, ibu, anak bahkan saudara.
Aku heran dengan pendirian orang yang tak dapat dihitung detik perubahannya, dan aku tak tahan bila sesuatu yang tak selayaknya terjadi menghancurkan keluarga kami, bagiku jika kesalahan itu terlintas dimataku maka tiada maaf bagimu,,,
Hari ni aku mulai mengambil nafas legah setelah bangkit dari keterpurukan hidup, kakiku melangkah berjalan dengan pasti berharap pagi ini mengantarkan ku menemui harapan, gelak tawa menyertai hariku dalam menimba ilmu, pandangan yang tak jauh berbeda ketika merasakan nikmatnya makan bersama dengan keluarga,
Namun yang ku rasakan tak bertahan begitu lama, hatiku seolah-olah bingung akan suatu keadilan, umur yang bertambah memaksaku untuk mengambil suatu langkah kebijaksanaan,
Bismillahirrohmanirrohim,, aku melangka selangkah demi langkah, aaggghhh difikiranku hanya satu mengukir senyum diwajah ayah dan ibu ku,
Aku tak pernah menyesal menyakiti hati orang lain yang menentangku, dan aku tak pernah takut untuk melakukannya kembali, bagiku hanya ingin kebebasan ku, hanya ingin mengambil hak ku untuk mengatakan tidak. Maka aku memutuskan untuk melewati ruang waktu.
Fikiranku melayang jauh saat aku tengah memandangi seorang bayi yang berada dalam pelukan ibunya. Rasanya apakah aku masih pantas mendapatkan perlakuan yang sama,??
Lalu kulanjutkan perjalananku menelusuri hutan dengan jurang yg tinggi, aku melihat orang tua yang dianiaya oleh sanak saudaranya, lalu aku berkata “ini tak adil”,,, fikirku kemana anak mereka yang tak berada disamping orang tua tak berdaya itu, lalu aku berjanji pada diriku sendiri bahwa aku akan berada digaris yang paling depan untuk menantang musuh dalam selimut walaupun harus mengorbankan diriku demi orang tuaku
Belum selesai aku keluar dari hutan itu malam telah menjemput, aku berbaring ketepian untuk menatap wajah-wajah yang tak Nampak, aku melihat saudara yang menjadi hamba sahaya saudaranya, aku langsung bangun dari tidurku sambil berkata, dia bukan dia.
Esoknya aku melihat seorang anak yang diusap kepalanya dengan seorang ayahnya yg berkata “ bagaimana keadaan mu??, semoga kau jadi anak ku yang paling ku banggakan”
Pagi ini sangat indah aku bagaikan mentari yang menyinari hari ini melangkah menelusuri ketidak tahuanku, langkahku semakin jauh kala aku pulang kerumah dan menyakiti hati kedua orangtuaku karena menginginkan hak untuk hidup,
Aku menangis sekencang kencangnya sambil berkata “ aku manusia, aku hidup, aku berperasaan dan aku akan mati”
Kala aku menangis sekencang kencangnya, aku melihat ketidak adilan dunia yang diadilkan dihadapan ku, karena aku,, karena aku yang iri akan mereka, karena aku yang tak sadar ketika aku ini sendiri.
Renungan tangis mengantaskan ku untuk berfikir akan apa yang terjadi, pilihan yang selalu dihadapkan untukku mengajak ku untuk menjadi labil, kepercayaan ku akan tuhan mengajak hidupku penuh dengan ujian, tapi aku yakin aku sanggup,
Saat aku tengah duduk diam meresapi angin yang sejuk ada seseorang gadis kecil yang bercerita kepadaku,
“aku adalah anak yang tinggal dirumah itu, rumah yang penuh dengan emas dan berlian”
Lalu aku tak mengerti akan apa yang diutarakannya
“ aku tinggal bersama seorang ibu, ayah,2 orang kakak dan 2 orang adik, ayah ku adalah seorang ayah yang baik tetapi memiliki latar masa lalu yang menjadi alasan untuk membuat ruang terpisah. Ibu ku adalah seorang ibu yang baik tapi ia memiliki sejuta alas an untuk mengabaikanku dari hidupnya, kakakku adalah kakak yang baik tapi ia mementingkan dirinya sendiri dan aku seakan-akan tersisi,, adikku adalah adik yang lucu yang selalu dianggap kecil oleh kedua orangtuaku sehingga ia mampu melakukan apa saja terhadap orang tua ku, dan aku adalah seorang anak yang tak memiliki kelebihan dan membentuk pemikiran robot atas hidupku, kini aku berusia cukup remaja dan aku memiliki banyak pengertian”.
Lalu anak itu duduk disampingku dan menangis
“aku tak tahu apakah usia remaja memiliki jaminan untuk tidak memerlukan kasih sayang,?? Aku tak tahu apakah seorang robot sepertiku tidak memiliki hati?? Aku tak tahu apakah aku layak terabaikan bahkan menjadi hamba sahaya dan mengabaikan nafas hidupku??”
Aku terdiam, aku tak mampu menjawab pertanyaan anak tersebut, aku mencoba bertanya akan apa yang ia inginkan dari hidupnya yang diberikan oleh tuhan padanya
“aku tidak memerlukan uang, aku tahu kewajiban seorang anak hanyalah untuk membahagiakan orang tua, maka aku akan mengukir senyum mereka,”
Sungguh mulia cita-cita mu nak, sekarang pulanglah, dan biarkan api itu membakar jiwamu demi tujuanmu, biarkan orang itu menganiaya dirimu, dan jangan takut untuk memperjuangkan hidupmu, karena bila aku mendengar ceritamu hanyalah tuhan dan dirimulah yang tau akan jati dirimu, pulanglah dan temukan kebahagiaanmu ditengah kegelapan dan keterpurukan yang menyertaimu, maka sejenak anak itu kembali tersenyum dan membentuk jati dirinya bersama kepercayaannya terhadap ukiran senyum dan keyakinannya akan kelak datangnya kebahagiaan yang sejati.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar