Kala itu hari masih baru, sang surya masih menatap dengan sapaan hangat, Bumi masih merasa kesepian, tampak saat ia duduk dan merenungkan angan ditengah keramaian kala ia sedang menatap teman-temannya yang berlalu-lalang tanpa peduli akan kehadirannya.
Masa yang suram itu berusaha ia lalui sendirian, sambil berusaha tak mempedulikan keadaaan disekelilingnya. Sesaat sewaktu ia tengah duduk pandangannya tertuju pada langit yang tepat berada disebelah utara Bumi. Ia terpaku sambil berusaha berfikir akan sesuatu pada langit yang tak jelas menjadikan sebuah pertanyaan dibenaknya. Ketika Bumi tengah bergembira dengan kawan-kawan barunya tiba-tiba pandangan Bumi tertuju pada langit yang tengah mengarah kepadanya. Entah itu hanya perasaan Bumi saja ataukah benar langit tengah mengarah kepadanya Bumi menghela nafas panjang dan trpaku didalam senyumannya. Untung saja kala itu langit hnya tampak mengarah kepadanya.
Setiap Bumi tengah berada ditata surya bumi slalu saja mengarah pada langit. Kadang ia berfikir akan sebuah Tanya yang dibentuk fikirannya sambil merasa kagum pada makhluk hebat itu. Semakin lama Bumi semakin mersa kagum pada pelangi yang selalu dibuat oleh makhluk itu, Bumi selalu merasa berada didalam kedamaian kala menatap langit sedang cerah ceria, makhluk yang cukup sederhana tetapi terlihat luar biasa.
Tapi entah mengapa, saat mereka tengah berada didalam tata surya, saat makhluk seantero jagad raya tengah memperhatikan Bumi tengah menjalankan suatu perintah mulia dengan segala ketidak tahuannya, tiba-tiba langit berbisik kepada angina yang tepat berada disebelah langit seraya menertawakan Bumi dengan sengajanya karena kecerobohan Bumi, seketika Bumi memerah, ia tak tahu apa yang ada dibenak makhluk tuhan yang paling ia puji itu, ia tak bias berbuat apa-apa, hanya menghela nafas panjang dan berusaha menyembunyikan kesedihannya itu.
Ketika bumi tengah tertidur didalam renungannya, seketika ia meresapi akan apa yang dirasakannya tadi, sedih, takut dan marah beradu membuat batinnya bergejolak. Ia pun terbangun dan menumpahkan air pada semestanya, sambil berharap ini hanya terjadi sekali. Ia pun berusaha kuat dan menyembunyikan kesedihannya. Ia sadar dan berkata didalam hati “ saya dan langit hanyalah sebuah harapan yang hidup didalam satu ruang yang sama tetapi terpisah jauh berbeda dan saya sangat sulit menggapainya karena kemungkinan-kemungkinannya”.
Kejadian itu membuat Bumi merasa takut untuk menyentuh langit dan mulai mengambil jarak pada langit, Bumi tak bias menjawab ntah mengapa ia selalu memuji-muji makhluk yang memiliki pelangi itu, bukan hanya kali itu saja langit merendahkan Bumi. Saat matahari tepat berada diatas kepala,langit memertawakan Bumi begitu hebatnya sebab bumi tampak lemah dan tidak bias apa-apa tidak seperti makhluk lainnya. Bumi hanya bias terdiam sambil melanjutkan senyum kesedihannya. “ oh tuhan saya harap saya sanggup, air dilembah ku tak boleh tertumpah sedikitpun, Bumi harus kuat”
Terkadang bumi selalu ingin seperti langit yang hebat, berbakat, pintar, indah dan memiliki sejuta kawan. Bumi selalu memiliki rasa ingin mengenal langit hanya saja bumi selalu takut langit akan murka padanya seperti yang biasa langit lakukan padanya.
“bagaimana bisa aku membahagiakan kamu sedangkan aku masih menjadi bayangan semu dan kamu dari pengabaianku”. Harapan Bumi mungkin hanya harapan konyol untuk bisa menyentuh langit.
Kala itu saat matahari tengah berada diufuk barat, tuhan memberikan Bumi kesempatan untuk mencoba menyentuh langit, Bumi menghampiri langit dengan jaraknya, beruntungnya langit sedang berbaik hati bumi pun berusaha membuat langit tersenyum dengan segala kemampuaanya dan ketika mereka bertemu kembali didalam galaksi mereka memulai sapaan hangat dengan saling tersenyum. Damai rasanya Bumi seperti sedang ada penghijauan sayangnya hl itu terjadi hanya dalam beberapa menit saja, Bumi berusaha membuang rasa sedih akan langit walaupun masih ada rasa enggan untuk menatap langit lagi tetap saja langit kembali pad hidupnya dan jauh dari bumi. “ hanya tuhan yang tahu, semua karena Bumi hanya dapat memandang langit dari kejauhan”
Semakin sulit rasanya menyentuh langit, ataukah hanya bumi yang bodoh?? Pertanyaan yang sering terungkap didalam keraguan Bumitapi ia percaya, kelak Ia akan mampu menyentuh langit.
Semakin Bumi meyakinkan dirinya untuk dapat menyentuh langit semakin sulit Bumi meraihnya, Bumi sangat berkecil hati kala ia tau tak ada harpn lgi untuk dapat menyentuh langit cerah itu. “ kamu bukan aku, hanya harapan yang terpisah diantara ruang yang sempit dan aku tak mungkin tega menghapus pelangimu yang ku kagumi, biarlah air ini mengalir seperti sungai yang jernih”.
Tuhan sangat bijaksana memperlakukan hokum alam. Ditempat yang sama dan dalam suasanan yang sama entah mengapa tampak bumi membalikkan sikap pada langit tepat seperti yang telah langit lakukan dulu, hanya saj mungkin yang dilakukan Bumi lebih ringan dibandingkan yang langit perbuat tapi hal itu tak membuat Bumi surut mengambil kesempatan pembalasan, apalagi ketika bumi mengetahui bahwa langit baru saja menurunkan hujan. “ apa yang telah aku perbuat, bagaimana bisa sayapanku terbang jauh jikalau aku sendiri yang telah menghapus pelangiku, menghitamkan langit”. Tiap waktu Bumi menunggu datangnya kesempatan untuk memperbaiki kesalahannya itu, untunglah tuhan maha pengasih, bumi diberi kesempatan untuk menebus kesalahannya, Bumi mencoba menghampiri langit kembali dengan jaraknya, tapi saying Bumi tak seberuntung sebelumnya, langit bersikap sangat dingin. Lalu semakin nampaklah harapan Bumi mendekati ambang kegagalannya.
“andai aku bisa membaca fikiranmu, sekarang ruang gerakku semakin terbatas untuk mampu menyentuhmu”. Bumi telah menjanjikan harapan kepada harapannya, selalu berupayah meyakinkan hati dan jiwanya bahwa ia tak akan gagal, ia yakin dapat membuktikannya dan meraih langitnya. sikap langit pun akhirnya mampu berubah sedikit lebih baik dari sebelumnya, hal aneh yang terjadi pada langit ketika ia mengulang statement yang diberikan kepada bumi selama 2 kali, dengan itu Bumi mampu tersenyum tetapi berada didalam keraguan sebab bumi tak mampu membaca fikiran langit yang musiman. “ sebenarnya aku tak mengharapkan apapun dari mu, jika kamu berfikiran lain maka fikiranmu itu yang akan membuatku takut untuk berbuat baik kepadamu”.
Terlalu lama Bumi harus mematikan jawabannya benar, tak sempat terjawab pertanyaan itu Bumi harus pergi jauh sejauhnya “ aku tak tahu apakah aku menyesal atau tidak, yang ku tahu hanya ingin langit nampak cerah selamanya”. Ketika tuhan telah memanggil bumi, dengan segala keraguaannya ia harus menanggalkan harapannya. Bumi menitipkan pesan kepada angkasa untuk langit. ”tetaplah menjaga pelangimu, maka disitulah hidup aku”. Dan ketika langit sadar sepenuhnya akan hidupnya yang mulai menyatu dengan Bumi kala itu tepat Bumi dan segala semestanya sudah tiada….
cReaTed by:
Miss kind
1 komentar:
bumi itu siapa? gw suka kata-katanya,, keren
Posting Komentar